Kondisi tersebut dinilai sengaja diciptakan oleh propinsi terhadap kabupaten-kabupaten yang ada di sebelah barat dan selatan.
"Belum lagi gejala-gejala sosial yang muncul di mata masyarakat ekses dari peninggalan konplik, menganaktirikan pantai barat selatan sama artinya membuang anak kandung ke tong sampah karena tidak mampu membiayai hidupnya," kecam T. Herman Ayyub, tokoh teras di Abdya.
Kecaman tokoh pemekaran Provinsi ABAS tersebut disampaikan kepada Harian Aceh Sabtu (22/8) menanggapi pernyataan Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman yang menyatakan provinsi Aceh menganaktirikan pantai barat selatan. Menurutnya hal ini sangat wajar karena provinsi bisa melihat dengan jelas penderitaan masyarakat pantai barat selatan terutama di sektor perhubungan darat antara Calang dan Banda Aceh, Jembatan Lamno yang sekian lama tidak bisa dilalui truk-truk pengangkut bahan pangan dan bangunan harus melalui sungai. "Jalan utama Meulaboh-Banda Aceh yang penuh lumpur itu tak ubahnya seperti sirkuit offroad, di atas ajang rally Paris Dakar," ujar Herman.
Dikatakan Herman, kenyataan lain yang bisa dilihat saat ini seperti jalan yang susah dilewati, daerah yang tidak bertuan, sehingga Azhar selaku Bupati melontarkan luapan emosi beliau kepada Bapak Gubernur, hanya sebuah kritik yang menginginkan satu perubahan dan ini bukan untuk kepentingan pribadi. "Irwandi selaku gubernur tak perlu gerah dan risih, demokrasi dan reformasi masih berjalan di atas jalur," ujarnya.
Menurut Herman, kritikan Bupati Azhar merupakan peringatan keras untuk provinsi dan perlu pemecahan secepat mungkin. Persoalan keadilan ini yang dirasakan Pantai Barat Selatan, akibat dari ketidakadilan dan dijadikan anak tiri, dan seperti daerah tertinggal. "Lahirnya provinsi ABAS adalah satu-satunya solusi terbaik," tegasnya.
Sementara Faisal, warga Kuala Bate mengaku prihatin dengan pembangunan pantai Barat pascadamai dan tsunami. Faisal mencontohkan seharusnya jalan Banda Aceh-Calang selesai sebelum BRR dibubarkan. “Jalan tersebut merupakan sarana yang hancur dihantam tsunami, tapi kenapa jalan tersebut masih terbengkalai,” ujarnya.(fri)



