Di kampong itu juga ada budaya yang aneh, yakni mewajibkan kenduri berbuka puasa. Padahal sebagian orang berkenduri hanya karena diwajibkan oleh tokoh gampong. Juga yang makan kenduri itu sebagian besar anak-anak yang belum wajib berpuasa, juga ada beberapa orang yang tak puasa tapi sering makan kenduri untuk buka puasa. Begitulah terjadi di kampungku. Entah di kampungmu juga?
Soal salah tarawih juga begitu. Orang kampungku salat tarawih sebagian besar hanya karena tak enak sama petinggi gampong dan para tetangga. Pada awal puasa biasanya meunasah dipadati para jamaah baik perempuan maupun lelaki. Namun di tengah apalagi menjelang akhir bulan, maka tiadalah sepadat di awal bulan.
Menjelang lebaran maka lain lagi persiapannya. Orang–orang mulai pikirkan daging meugang lebaran dan baju baru buat anak-anak, serta kue enak bagi para ibu. Pokoknya menyambut Ramadhan dan lebaran kini hanya sebagai budaya saja, bukan sebagai ibadah.
Di pusat-pusat pemerintahan, bila datang bukan puasa, maka beruntunglah para koruptor karena isu sudah direda sedikit dan agak beralih. Bagi sebagian orang, yang tadinya tidak pakai peci kini mulai ganti gaya, kini beli peci baru untuk pelengkap pakaian selama bulan Ramadhan. Kata Dek Nong, itu adalah sebuah gaya yang diajarkan para pengasuh isu dalam kotak TV. Maka berterimakasihlah pada TV.
Masjid-masjid pun akan diramaikan kembali, seperti Taman Ratu Safiatuddin diramaikan saat PKA, lalu sepi kembali, maka masjid dimalamnya pun begitu. Keadaan itu menandakan orang Aceh masih peduli pada Islam walau hanya sebatas menjaga marwah yang hati mereka sendiri bimbang dan enggan. Maka lengkaplah sudah riwayat budaya Islami di Aceh yang bertitel Serambi Makkah ini.(thayeb loh angen)



