Ibu kandung korban, Juraida, 35, mengatakan kejadian tersebut berawal saat dirinya sedang memberi makan siang kepada kakak korban. “Saya sedang memberi makan kepada kakak si Amar. Karena saat itu, si Amar rewel, saya minta bantu pada adik saya untuk menggendong Amar. Tapi, adik saya tidak sanggup menggendong si Amar, karena dia sangat lasak,” kata dia.
Beberapa saat kemudian, Juraida teringat dengan Amar. Lalu, ia berusaha mencari Amar ke kamar tidur. Juraida juga mengintip ke kolong rumahnya melalui celah-celah lantai yang berkonstruksi kayu. “Saya intip ke bawah, Amar juga tidak ada, di halaman rumah pun tidak ada. Tiba-tiba, keponakan saya yang masih kecil melihat Amar tenggelam dalam air di kolong rumah kami,” kata ibu tiga anak ini.
Ternyata, lanjut Juraida, tanpa ada yang melihat—Amar turun dari rumah dengan cara merangkak. Kebetulan, saat itu pintu rumah juga terbuka lebar. “Saat bayi saya ditemukan dalam air setinggi lutut orang dewasa, dia masih bernyawa sehingga kami langsung membawanya ke Rumah Sakit Islam di Simpang Cunda (sekitar 1 kilometer dari rumah korban—red). Sampai di rumah sakit, dipasang oksigen, tapi sudah tidak tertolong lagi,” katanya.
Hingga menjelang malam kemarin, jenazah bayi delapan bulan itu belum dikebumikan karena keluarganya menunggu pulang ayah korban, yaitu M Rizal, 35, yang sedang bekerja di Kabupaten Pidie sebagai buruh bangunan.
Sejumlah warga setempat menyebutkan, setiap turun hujan—rumah panggung milik Juraida dan M Rizal selalu tergenang air karena di seputaran lokasi itu tidak ada saluran. “Kami berharap pemerintah segera membuat parit di sekitar tempat itu supaya air tidak tergenang. Upaya itu perlu segera direalisasikan agar tidak jatuh korban lagi,” kata Armia, 40, warga setempat.(irs)
BERITA TERKAIT:
Ditelantarkan RSUZA, Pasien Askes Meninggal



