HARIAN ACEH. COM

Friday
Jul 30th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Pidie Raya Pidie Jaya Cang Panah: Berita

Cang Panah: Berita

“Kautahu, Apa Main, persaudaraan azali dari sebuah bangsa itu kini dipertaruhkan, sebab untuk menyelamatkan kepentingan politik negerinya ada sebagian rakyat yang dikorbankan, padahal rakyat itu telah berjasa banyak untuk menegakkan negeri itu dulu,” kata Apa Maun seraya menahan batuk.

“O walah, kau Apa Maun, sudah pandai berpuisi dan berpolitik lagi dalam puisimu,” kata Apa Main seraya mengaduk-aduk butiran ludo dalam kotaknya di kedai kupi gampong. Mereka nekat main ludo berdua karena yang lain tidak mau ikutan main, lagi kerja.

“Ini bukan puisi!” ucap Apa Maun dengan wajahnya yang mulai memerah karena barusan menahan batuk. Apa Maun batuk-batuk sekali lalu melanjutkan.

“Persaudaraan azali yang kumaksud adalah persaudaraan di sebuah negeri persatuan antara pulau. Persaudaraan ini dibangun atas dasar kebaikan, namun karena ada beberapa kelompok yang narsis etnokologi maka menginginkan kekacauan di bagian lain negara itu agar entik lain tidak bisa maju, itu penjajahan intelektual terselubung,” Apa Maun melirik Apa Main dan Apa Seuman yang tak menghiraukan kata-katanya, kedua temannya itu sibuk menatap papan ludo. Namun Apa Maun melanjutkan.

“Anehnya media massa di kawasan itu ikut berkecimpung membuat berita kekacauan dan mengacaukannya sedikit,” Apa Maun terus berbicara sendiri sementara Apa Main dan Apa Seuman sibuk main ludo, tak peduli apapun kata Apa Maun dan tak peduli urusan apa saja dalam negeri.

“Aku menang!” teriak Apa Seuman seraya menggigit butiran ludo.

“Dengarkan aku, aku lagi bercerita,”  bentak Apa Maun.

“Ah, ceritamu basi, yang penting aku menang ludo!” cetus Apa Main.

“Apa hasilnya bila kau menang?” sergah Apa Seuman yang merasa dipencundagi.

“Gak, ada, menang saja sudah cukup,” Apa Main masih menggigit butiran ludo.

Apa Maun dan temannya terus bercakap-cakap dalam ketegangan. Dari utara muncul Dek Gam yang menjinjing lembaran koran.

“Seru kali berita hari ini, empat teroris ditangkap, dua polisi tertembak,” Dek Gam berkata-kata bangga membawa berita hangat yang ia baca di koran.

“Sini aku baca sendiri,” Apa Maun menarik koran dari tangan Dek Gam. Apa Maun mulai membaca sendiri berita yang terjadi dua hari lalu di kampungnya. Ia heran berita yang tertulis amat berbeda dengan yang ia ketahui langsung dari orang-orang kampungnya.

“Berita ini salah!” teriak Apa Maun.

“Enak saja kausalahkan koran, emangnya kau lebih cerdas dari penulis berita ini?” sergah Dek Gam.

“Ini bukan soal cerdas atau tidak, tapi soal berita yang sesuai kejadian tanpa dipengaruhi oleh narasumber atau opini pembuat berita,” Apa Maun bersitegang.

“Hanya kau sendirian yang tak percaya sementara ribuan orang lain percaya pada berita di koran ini, soal benar sesuai fakta atau tidak, itu bukan urusanku,” Dek Gam merebut kembali koran dari tangan Apa Maun.

“Ayo kita main ludo lagi, Apa Maun, kau ikutan main ludo saja!” teriak Apa Seuman.

“Kalau sibuk mengurus isi pemberitaan, baiknya kaujadi wartawan saja seperti Dek Nong,” kata Dek Gam.

“Benar, kau Apa Maun jadi wartawan saja.” Apa Seuman ikut meledek, “Tapi, Apa Maun kan tidak bisa menulis tapi bisa membaca,” Apa Seman mulai mengaduk-aduk butiran ludo.

“Walau aku hanya bisa membaca dan tak bisa menulis, aku bisa mengatakan peristiwa seperti yang sebenarnya terjadi, tidak menipu publik dengan tulisan dan bacaanku,” kata Apa Maun.[]

oleh Thayeb Loh Angen